Google+ Badge

Rabu, 17 April 2013

Tafsir Biblical: SULITNYA MEMAHAMI AYAT-AYAT ALKITAB


Memahami Alkitab tidak cukup hanya didasari memiliki pengetahuan ilmu teologi, tafsir dan hermenuetik yang cukup tetapi juga harus ada keakraban yang manis dengan Tuhan baik melalui doa maupun dalam waktu merenungkan firmanNya. Jika dari yang telah disebutkan di atas dilalaikan tanpa tuntunan Roh Kudus sebagai Guru Agung maka hasilnya seringkali tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh para nabi atau rasul yang dipercayakan Tuhan menuliskan ayat-ayat Alkitab. Hal yang demikianlah melatar-belakangi yang melahirkan ragam doktrin di dalam kekeristenan maupun pemahaman yang berbeda mengenai Tuhan Yesus Kristus.

Pengamat Alkitab seringkali melakukan penafsiran hanya berdasarkan Alkitab terjemahan, dan melupakan Alkitab yang menggunakan bahasa asli, misalnya kitab PL menggunakan bahasa Ibrani dan kitab PB menggunakan bahasa Yunani. Bagian ini bukan ingin mengatakan bahwa Alkitab alih bahasa (Alkitab terjemahan) kurang tepat dalam terjemahannya, tetapi karena seringkali ditemukan adanya keterbatasan padananan kosa kata dalam transiliterasinya. penterjemah Alkitab tugasnya bukan untuk menafsirkan ayat-ayat Alkitab tetapi mereka menterjemahkan sesuai kosa kata yang ada dalam Alkitab yang menggunakan bahasa asli.

Adanya pemahaman yang berbeda, karena kerapkali tanpa memperhitungkan pentingnya kajian terhadap kosa kata atau tata bahasa yang sedang digunakan, maka tidak menemukan apa yang ingin dipesankan oleh penulis kitab (nabi/rasul).

Contoh pertama (PB):
Dalam Yohanes 14:1 …percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. ,

di dalam ayat itu ada dua kata sering dijadikan pertanyaan, siapa Allah dan siapa Aku? Memang pertanyaan itu logis karena ada dituliskan dalam Alkitab terjemahan. Kerumitannya, seringkali dalam prakteknya cukup dilihat dari kamus saja, atau seringkali ditampilkan bahasa aslinya tetapi tdk tau apa alasan dan tujuan ditampilkan, kecuali ingin tanpa disadari meminta pengakuan, ia penah belajar bahasa asli hANYA 3 SKS saja atau pernah belajar mermeneutika 2 SKS saja, tatapi sesungguhnya tdk tau apa fungsinya

Yoh 14:1 digunakan kata: theon (Allah). Memahami kata Theon tidak cukup hanya melihat kamus ATAU HANYA SEKEDAR memahami dari ayat terjemahan seperti yang telah dijelaskan di atas, karena sesuai kamus Yunani kata:
Theos,
Theou,
Theo,
Theon
sama-sama yang memiliki arti “Allah,” namun arti sintaks dari masing-masing kt tersebut berbeda. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam Yoh.14:1 menggunakan kata Theon...? kenapa tdk Theos, Theou atau Theo...? apakah salah tulis...?
karena dianggap sama saja ini yg melatar belakangi adanya pertanyaan: siapa Allah dan siapa Aku yg dimaksud dalam Yoh.14:1....?

jika sesuai arti kamus kata Theon yang berarti “Allah” mengapa tidak dituliskan dengan kata theos atau theo? Tentu ayat tersebut bukan salah tulis, tetapi ada maksud sipenulis, sehingga menuliskannya dengan kata Theon dan bukan Theos atau Theo.

Kata Theon, memiliki akhiran “on,” yang memiliki kasus akusatif, maksudnya sbg obyek tidak langsung atau diberikan pembatasan kata, pemahaman dari yang mengucapkan kata tersebut, yaitu Yesus, pendengar (para rasul) sudah mengetahui atau sudah terkonsep dalam pengetahuan mereka apa yang dimasuk kata Theon (Allah), artinya kata Theon tidak membutuhkan penjelasan lagi.

Apabila tetap kata theon dipaksakan menjadi pertanyaan, maka ayat tersebut ingin menjelaskan ada 2 pribadi di dalam ayat tersebut yang perlu diketahui, maka akan memunculkan mengenai tritunggal. Dengan cara itu, maka tidak akan menemukan maksud dari ayat tersebut menggunakan akhiran “on.”

Contoh kedua (PL):
Kejadian 1:2. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kata “Roh Allah” (dalam konteks Kej.1:2),

sekilas ada terlihat dua kata dan memiliki dua arti yang berbeda. Kesulitannya seringkali melupakan makna sintaks dari rangkaian kata pada kedua kata tersebut yaitu yg didahului dengan kata penghubung we. Jika kata hubung we di abaikan dalam pengartiannya, maka penjelasannya akan memberi arti bahwa Roh Allah dalam Kej.1:2 akan berbeda dengan kata “Allah” yang ada dalam Kejadian 1:1, atau seakan ada 2 pribadi, jelas (ini tdk ingin memberikan adanya bicara ttg tritunggal).

Kata hubung we yang mendahului kata “Roh Allah” dalam Kej.1:2 itu sangat signifikan memberi keterangan bahwa:yang melayang-layang itu bukan roh manusia, roh setan atau roh yang lain, tetapi ingin menjelaskan bahwa yang melayang-layang itu adalah RohNya Allah yaitu Allah yang dimaksud dalam Kejadian 1:1.

Kedua contoh seperti di atas, itu yang dimaksudkan seperti pembahasan sebelumnya, memahami ayat-ayat Alkitab tidak cukup memaknainya dengan hanya apa yang tertulis di dalam Alkitab dan hanya berdasarkan kamus, tetapi membutuhkan pengamatan khusus dengan kemampuan bahasa, teologi dan Hermeneutik yang baik.

Salam Biblical


Foto Bapak Bernike Sihombing


Sumber : https://www.facebook.com/pak.berni?hc_location=stream

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar